Main Article Content

Abstract

ABSTRAK
Pewarnaan giemsa yang merupakan teknik pewarnaan yang paling bagus dan sering digunakan untuk mengidentifikasi parasit. harus diencerkan dengan konsentrasi tertentu, agar parasit dalam sel darah merah dapat menerima zat warna Giemsa sehingga memudahkan identifikasi parasit. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi Giemsa terhadap hasil pewarnaan sediaan apus darah tipis pada pemeriksaan Plasmodium sp yang diperiksa secara mikroskopis, mengetahui kualitas hasil pewarnaan berbagai variasi konsentrasi Geimsa. Jenis penelitian analitik dengan rancangan penelitian eksperimen, dengan menggunakan darah positif malaria yang dibuat sediaan darah tipis dilakukan pewarnaan dengan variasi konsentrasi Giemsa 5%, 10% dan 20% dengan 9 kali pengulangan disetiap variasinya. hasil pewarnaan sediaan darah tipis menunjukkan pada pengenceran 5 % didapat 4 sediaan (45%) yang memenuhi kriteria pewarnaan sediaan yang baik, didapat 4 sediaan (44%) yang kurang memenuhi kreteria sediaan darah yang baik. Dan 1 sediaan (11%) yang dapat dikatakan jelek (tidak memenuhi kreteria sediaan yang baik). Pada pengenceran 10% didapat 8 sediaan (89%) yang memenuhi kriteria pewarnaan sediaan yang baik, 1 sediaan (11%) yang kurang memenuhi kreteria sediaan darah yang baik pada pengenceran 20% didapat hanya 2 sediaan (22%) yang kurang memenuhi kreteria sediaan darah yang baik. Dan sisanya didapatkan 7 sediaan (78%) yang dapat dikatakan jelek (tidak memenuhi kreteria sediaan yang baik). kemudian hasil data yang didapat dianalisis menggunakan uji Kruskall-Wallis sehingga didapatkan nilai = 0,001 < Artinya nilai menunjukkan ada pengaruh variasi konsentrasi Giemsa terhadap hasil pewarnaan giemsa Plasmodium sp sediaan darah tipis.
Kata kunci : Variasi Giemsa, Sediaan Darah Tipis dan Plasmodium sp

Article Details

References

  1. REFERENSI
  2. Agung K, Jurnal KesehatanVol, IV,
  3. NO.2, Oktober 2010.
  4. Depertemen Kesehatan RI, 1999.
  5. Modul Parasitologi
  6. Malaria, Pendidikan
  7. Tenaga Kesehatan,
  8. Jakarta.
  9. Depertemen kesehatan RI, 2001.
  10. Modul Parasitologi
  11. Malaria, Pendidikan
  12. Tenaga Kesehata,
  13. Jakarta.
  14. Depertemen kesehatan RI, 2011.
  15. Pedoman Teknis
  16. Pemeriksaan Parasit
  17. Malaria, Jakarta.
  18. Gandosoebrata, R., 2007. Penuntun
  19. laboratorium klinik, Cetakan kesebelas, Dian Rakyat, Jakarta.
  20. Kiswari R., 2014. Hematologi Dan Tranfusi, Erlangga, Jakarta.
  21. Mahdiana R, 2010. Mengenal,
  22. Mencegah Dan Mengobat
  23. Penularan Penyakit Dari
  24. Infeksi, Citra Pustaka,
  25. Yogyakarta.
  26. Muslim M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta.
  27. Nazir, M, pH.D, 1983. Metode penelitian, Galia Indonesia, Jakarta.
  28. Notoadmodjo, S. 2005. Metodologi
  29. Penelitian Kesehatan, Rieneka Cipta,
  30. Jakarta.
  31. Pusdiknakes. 1993. Malaria. Jakarta : Depkes RI.
  32. Rahmad A, 2011. Purnomo. Atlas Diagnostik Malaria, EGC, Jakarta.
  33. Sandjaja, 2007. Parasitologi
  34. Kedokteran Protozoologi
  35. Kedokteran, Prestasi
  36. Pustaka, Jakarta